Jumat, 26 Desember 2014

Pengertian Ekosistem Hutan Gambut

| Jumat, 26 Desember 2014

Pengertian Ekosistem Hutan Gambut - Hutan gambut adalah hutan yang tumbuh di atas kawasan yang digenangi air dalam keadaan asam dengan pH 3,5 - 4,0 (Arief, 1994). Hal itu tentunya menjadikan tanah sangat miskin hara. Menurut Indriyanto (2005), hutan gambut didefinisikan sebagai hutan yang terdapat pada daerah bergambut ialah daerah yang digenangi air tawar dalam keadaan asam dan didalamnya terdapat penumpukan bahan-bahan tanaman yang telah mati.

Hutan hujan dan lahan gambut di Indonesia penting bagi iklim, satwa liar dan masyarakat hutan.


Lahan gambut memiliki karakteristik kimia dan fisik yang unik. Karakteristik tersebut berhubungan dengan kontribusi gambut dalam menjaga kestabilan alam

Ekosistem hutan gambut merupakan suatu tipe ekosistem hutan yang cukup unik karena tumbuh diatas tumpukan bahan organik yang melimpah. Daerah gambut pada umumnya mengalami genangan air tawar secara periodik dan lahannya memiliki topografi bergelombang kecil sehingga menciptakan bagian-bagian cekungan tergenang air tawar.

Arief (1994) mengemukakan bahwa gambut itu terjadi pada hutan-hutan yang pohonnya tumbang dan tenggelam dalam lumpur yang hanya mengandung sedikit oksigen, sehingga jasad renik tanah sebagai pelaku pembusukan tidak mampu melakukan tugas secara baik. Akhirnya bahan-bahan organik dari pepohonan yang telah mati dan tumbang tertumpuk dan lambat laun berubah menjadi gambut yang tebalnya bisa mencapai 20 m.

Menurut Irwan (1992), gambut adalah suatu tipe tanah yang terbentuk dari sisa tumbuhan (akar, batang, cabang, ranting, daun, dan lainnya) dan mempunyai kandungan bahan organik yang sangat tinggi. Permukaan gambut tampak seperti kerak yang berserabut, kemudian bagian dalam yang lembap berisi tumpukan sisa-sisa tumbuhan lainnya. Anwar dkk. (1984 dalam Irwan, 1992) mengemukakan bahwa gambut dapat dikalsifikasikan ke dalam dua bentuk, yaitu gambut ombrogen dan gambut topogen.

  1. Gambut ombrogen : Bentuk gambut ini umum dijumpai dan banyak ditemukan di daerah dekat pantai dengan kedalaman gambut mencapai 20 m. Air gambut itu sangat asam dan sangat miskin hara (oligotrofik) terutama kalsium karena tidak ada zat hara yang masuk dari sumber lain, sehingga tumbuhan yang hidup pada tanah gambut ombrogen menggunakan zat hara dari gambut dan dari air hujan.
  2. Gambut topogen : Bentuk gambut seperti ini tidak sering dijumpai, biasanya terbentuk pada lekukan-lekukan tanah di pantai-pantai (dibalik bukit pasir) dan di daerah pedalaman yang drainasenya terhambat. Air gambut ini bersifat agak asam dan mengandung zat hara agar banyak (mesotrofik). Tumbuhan-tumbuhan yang hidup pada tanah gambut topongan masih mendapatkan zat hara dari tanah mineral, air sungai, sisa tumbuhan, dan air hujan.
Tipe ekosistem hutan gambut ini berada pada daerah yang mempunyai tipe iklim A dan B (tipe iklim menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson), pada tanah organosol yang memiliki lapisan gambut setebal lebih dari 50 cm (Santoso, 1996; Direktorat Jenderal Kehutanan,1976). Hutan gambut terletak di antara hutan rawa dan hutan hujan. 

Related Posts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar